• SMAN 3 SIDOARJO
  • Jujur dan Berprestasi

PENERAPAN MODEL BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN BELAJAR PADA MATERI BUKU BESAR DAN NERACA SALDO KELAS XII IPS 1 SMA NEGERI 3 SIDOARJO TAHUN PELAJARAN 2020/ 2021

PENERAPAN MODEL BLENDED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN BELAJAR PADA MATERI BUKU BESAR DAN NERACA SALDO KELAS XII IPS 1 SMA NEGERI 3 SIDOARJO TAHUN PELAJARAN 2020/ 2021

 

Erna Arista,S.Pd, SMA Negeri 3 Sidoarjo, email: smantiglearning@gmail.com

 

ABSTRAK

Perubahan dalam dunia pendidikan dapat dilihat dengan adanya beberapa kali perubahan dalam kurikulum pendidikan yang digunakan. Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. masa pandemic covid 19 dan diberlakukannya pembelajaran jarak jauh, perlu adanya pembelajaran sinkron asinkron. Blended Learning ini merupakan kombinasi dari pembelajaran berbasis web dan pembelajaran tatap muka. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini untuk Ketuntasan belajar pada putaran I adalah 78.57%, dan putaran II adalah 90.48%. Skor dari Pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas guru dari 92 di siklus 1 menjadi 94.6 di siklus 2. Skor dari Pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas siswa dari 81.3 di siklus 1 menjadi 90.6 di siklus 2. Respon siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan blended learning adalah pada putaran I sebesar 88.09% dan putaran II sebesar 95,23%

Kata kunci: blended learning, pembelajaran saintifik, ketuntasan belajar

 

ABSTRACT

The several changes of curriculum used in schools have somehow transformed the education system. Scientific learning is a method that adopts scientific steps in buulding knowledge. COVID-19 pandemic and distance learning automatically lead us to to the needs of synchronous and asynchronous learning. Blended Learning is a combination of web-based learning and face-to-face learning. The research method used was classroom action research. The results of the study explained that learning completeness of the 1st learning session is 78.57% and 90.48% for the 2nd learning session. Learning management with blended learning from teacher activities got a score of 92 in first cycle and 94.6 in second cycle, while management of learning with blended learning from student activities got a score of 81.3 in first cycle  and 90.6 in second cycle. Student responses to the application of learning with blended learning were 92, 86% in the first cycle and 95.23% in the second cycle.

Keywords: blended learning, scientific learning, learning completeness

 

Pendahuluan

 

Semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, menyebabkan perubahan dalam dunia pendidikan. Di Indonesia, perubahan dalam dunia pendidikan dapat dilihat dengan adanya beberapa kali perubahan dalam kurikulum pendidikan yang digunakan. Dengan adanya perubahan kurikulum ini, diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dalam upaya mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik (Alfred De Vito, 1989).

Seiring dengan adanya pandemi covid 19, maka pembelajaran dilakukan secara daring. Namun, pembelajaran secara daring yang diterapkan disekolah pada umumnya belum mencapai pada konsep sinkron asinkron. Pembelajaran seperti ini biasanya dilakukan dalam bentuk pemberian materi dan tugas melalui google classroom dan sejenisnya. Hal ini tentu bisa membuat peserta didik bingung karena materi tidak disampaiakn secara langsung oleh pendidik.

Dari hasil Pengamatan pada saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SMA Negeri 3 Sidoarjo diketahui bahwa mata pelajaran ekonomi, pada materi akuntansi diantaranya buku besar, neraca saldo dan jurnal penyesuaian dianggap sulit. Dalam proses belajar mengajar dengan google class room, peserta didik belum aktif bertanya, mengutarakan pendapat maupun menjawab pertanyaan, sehingga masih sulit memahami materi tersebut, sehingga hasil belajar peserta didik tidak tercapai ketuntasan 100%. KKM di SMA Negeri 3 Sidoarjo sebesar 75. dari analisis nilai PTS yang sudah terlaksana, terlihat data ketuntasan XII IPS 1 sebesar 85% dan XII IPS 2, sebesar 88 %. Dari hasil ketuntasan belajar di dua kelas tersebut, terlihat kelas XII IPS 1, ketuntasannya hanya 85 %, oleh karena itu, untuk pembelajaran materi buku besar dan neraca saldo, pendidik akan menerapkan model blended learning, sehingga diharapkan pembelajaran lebih efektif yang salah satunya, adanya komunikasi antara pendidik dengan peserta didik melalui tatap muka virtual. Oleh karena itu, penelitian ini mengambil judul ”Penerapan Model Blended Learning Untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Pada Materi Buku Besar dan Neraca Saldo Kelas XII IPS 1 SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2020/ 2021”

 

Belajar Tuntas

                   Ketuntasan belajar peserta didik merupakan pencapaian hasil belajar peserta didik yang ditunjukkan dan nilai yang diperolehnya melalui suatu  yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan. Menurut kurikulum di SMA Negeri 3 Sidoarjo, peserta didik dikatakan telah tuntas dalam suatu proses pembelajaran jika ia memperoleh nilai minimal 75 dari skor tertinggi 100, atau memperoleh ketercapaian pembelajaran minimal 75%. Suatu kelas disebut tuntas belajar jika semua peserta didik atau 100% jumlah peserta didik mencapai ketuntasan belajar.

              

Pembelajaran Saintifik

Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya “sense of inquiry” dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik (Alfred De Vito, 1989). Pendekatan Ilmiah dalam Pembelajaran:

Gambar 1. Pendekatan ilmiah dalam Pembelajaran

 

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang dirancang agar peserta didik mendapat pengetahuan penting, yang membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan berpartisipasi dalam tim. Tahap-tahap PBL meliputi :

 

 

 

 

 

Tabel 1. Tahap-tahap PBL

 

Model Blended Learning

Model Blended Learning ini muncul ketika Kerres dan Witt (dalam Luik 2006) menyatakan bahwa web- based learning dapat dikombinasikan dengan face-to-face learning. Blended Learning ini merupakan kombinasi dari pembelajaran berbasis web dan pembelajaran tatap muka, maka pembelajaran ini dapat diterapkan pada mata pelajaran apa pun, termasuk mata pelajaran ekonomi yang salah satunya dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat.

 

Penilaian

Penilaian otentik adalah penilaian yang mengharuskan peserta didik untuk menunjukkan pengetahuan (knowledge), sikap (afective), keterampilan (skills) dan kemampuannya (ability)  dalam situasi yang nyata /real life situations (Popham, 1995; Bookhart, 2001). Penilaian sikap dilakukan melalui pengamatan, penilaian diri, penllaian antar-teman, dan jurnal. Penilaian kognitif dilakukan melalui tes (tertulis/lisan) dan penugasan (non tes). Penilaian ketrampilan dilakukan melalui tes praktik, proyek, dan/atau portofolio

 

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam kelas sacara bersama (Suharsimi Arikunto, 2007: 3). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki mutu dalam praktik pembelajaran di kelas yang diteliti. Penelitian tindakan kelas berfokus pada kelas atau pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas.

 

Subjek Penelitian

     Subyek penelitian ini adalah Penerapan Model Blended Learning Untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Pada Materi Buku Besar dan Neraca Saldo Kelas XII IPS 2 SMA Negeri 3 Sidoarjo Tahun Pelajaran 2020/ 2021 sebanyak 41 peserta didik.

 

Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMA Negeri 3 Sidoarjo Jalan Dr. Wahidin 130 Sidoarjo. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober dan 2 November 2020.

 

Rancangan Penelitian

Pelaksanaan pembelajaran pada penelitian ini dirancang sesuai dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Di dalam penelitian  ini yang terlibat antara lain guru/ peneliti, guru observer dan siswa. Pelaksanaan kegiatan pengajaran pada penelitian ini dilakukan dalam dua kali putaran. Dalam tiap putaran terdiri dari empat tahapan yaitu: perencanaan penelitian (planning) , tindakan dan observasi (acting), refleksi (reflection) dan revisi (revition).

  1. Perencanaan Penelitian (Planning)

          Pada tahap ini peneliti terlebih  dahulu menentukan dan merencanakan hal-hal yangdiperlukan dalam penelitian antara lain : (1) Menetapkan waktu penelitian, (2) Menentukan materi yang akan disampaikan dalam penelitian ini, (3) Menetapkan hari dan tanggal pelaksanaan penelitian, (4) Menyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari :Silabus kondisi khusus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Modul, LKPD, Menyusun instrumen Penelitian yang terdiri dari Lembar pengamatan dan Lembar pre-test dan post-test.

  1. Tindakan dan Observasi (Acting)

            Pada tahap ini peneliti melakukan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan RPP yang telah dibuat dan disesuaikan dengan tahap-tahap pada model penelitian tindakan kelas, sedangkan observer melakukan pengamatan terhadap penerapan model blended learning.                

  1. Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan ulasan atau kesimpulan dari hasil tindakan dan observasi. Refleksi dilakukan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung pada putaran pertama. Refleksi pada putaran pertama ini, dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang terjadi selama kegiatan belajar mengajar .

  1. Revisi (Revition)

Dari hasil refleksi, peneliti melakukan revisi untuk membuat rencana pada putaran kedua yang harus diterapkan peneliti dalam kegiatan pembelajaran berikutnya sehingga kekurangan yang ada pada putaran pertama tidak terjadi lagi.

 

Instrumen Penelitian

  1. Lembar observasi
  2. Lembar Angket Respon Peserta didik
  3. Lembar test

 

Metode Pengumpulan Data

  1. Hasil observasi
  2. Angket
  3. Test

Analisis Data

Jenis analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif. Tahapan analisis yang dilakukan adalah:

Analisis Data Soal

Soal-soal yang digunakan dalam post-test perlu diuji coba dengan mengetahui tingkatkesukaran soal, daya pembeda soal, validitas soal, dan reliabilitas soal.

Validitas butir tes. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument yang digunakan dalam penelitian.

Rumusnya yaitu :

Rxy   =     (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 72)

Keterangan :

Rxy   =       Validitas butir soal

N       =       Banyaknya peserta tes

X       =       Skor peserta tes pada butir soal yang dicari validitasnya

Y       =       Skor total yang dicapai peserta tes

TABEL 2

KRITERIA VALIDITAS BUTIR SOAL

Range

Kriteria  validitas butir tes

0,80 – 1,00

Sangat tinggi

0,60 – 0,80

Tinggi

0,40 – 0,60

Cukup

0,20 – 0,40

Rendah

0,00 – 0,20

Sangat rendah

(Arikunto, Suharsimi, 2003 : 75)

 

Daya pembeda. Daya pembeda merupakan kemampuan soal untuk membedakan siswa kelompok pandai atau kurang pandai. Daya Pembeda untuk tes obyektif digunakan rumus :

(Arikunto, Suharsimi, 2003: 213)

Keterangan :

D  =   Indeks diskriminasi

Ba =  Banyaknya siswa kelompok atas yang menjawab benar suatu butir soal

Bb    =       Banyaknya siswa kelompok bawah yang menjawab benar suatu butir soal.

Ja  =   Banyaknya siswa kelompok atas

Jb =   Banyaknya siswa kelompok bawah.

TABEL 3

PENAFSIRAN DAYA PEMBEDA BUTIR TES

Indeks Diskriminasi

Penafsiran Daya Pembeda Soal

>  0,70

Baik sekali

0,40 < D < 0,70

Baik

0,20 < D < 0,40

Cukup

D > 0,20

Jelek

D < 0,00

Semuanya tidak baik

   (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 218)

 

Tingkat kesukaran. Tingkat kesukaran merupakan kemampuan tes dalam mengelompokkan banyaknya subyek yang menjawab benar. Tingkat kesukaran untuk tes obyektif digunakan rumus :

P =  (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 208)

Keterangan :

P = Indeks kesukaran butir tes

B = Banyaknya siswa menjawab benar satu butir tes

Js = Banyaknya siswa peserta tes.

TABEL 4

PENAFSIRAN INDEKS KESUKARAN BUTIR TES

Indeks Kesukaran

Penafsiran butir tes

P < 0,30

Butir soal sukar

0,30 < P < 0,70

Butir soal sedang

P > 0,70

Butir soal mudah

   (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 210)

 

Reliabilitas tes. Reliabilitas merupakan ketepatan suatu tes apabila diteskan kepada subyek yang sama.

r11 =        (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 95).

Keterangan :

r­11          =   Reliabilitas

r  ½ ½    =   Korelasi antara skor-skor setiap belahan tes

TABEL 5

KRITERIA RELIABILITAS SOAL

Range

Reliabilitas

R < 0,20

Reliabilitas sangat rendah

0,20 – 0,40

Reliabilitas rendah

0,40 – 0,60

Reliabilitas sedang

0,60 – 0,80

Reliabilitas tinggi

0,80 – 1,00

Reliabilitas sangat tinggi

(Arikunto, Suharsimi, 2005: 75 )

Analisis data respon siswa

Untuk menganalisa data respon siswa didasarkan atas prosentase. Prosentase respon siswa didefinisikan sebagai frekuensi siswa yang memberikan Jawaban yang sama, dibagi dengan banyaknya siswa kemudian dikalikan 100%.

Prosentase=

(User Usman, 1993:97)

Analisis Hasil Tes

Hasil tes dianalisis dengan prosentase. Dari hasil tes yang diperoleh siswa, dapat diketahui bahwa siswa dikatakan tuntas belajar jika telah memperoleh hasil belajar sebesar ketentuan masing-masing sekolah. Ketuntasan individu yang ditetapkan di SMA Negeri 3 Sidoarjo, adalah > 75% dan ketuntasan klasikal sebesar  100%.

Untuk soal objektif, perhitungan prosentase ketuntasan secara individual digunakan rumus sebagai berikut :

(Uzer Usman, 1993 : 97)

Tes subjektif, yang umumnya berbentuk esai yaitu sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata (Arikunto, Suharsimi, 2003 : 162). Bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu tes objektif dan uraian. Dalam test objektif, ditentukan besarnya skor ideal. Sedangkan untuk soal uraian, ada 5 soal, dan tiap soal sudah ditentukan skornya. Besarnya skor ideal untuk soal objektif dan uraian, dapat dilihat di lampiran RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

Sedangkan perhitungan prosentase untuk ketuntasan secara klasikal dapat digunakan rumus sebagai berikut :

(Uzer Usman, 1993 : 97)

 

 

Hasil Penelitian

Berikut ini adalah hasil penelitian penerapan blended learning.

Tabel 6

LEMBAR OBSERVASI

Aktivitas Guru Selama Proses Pembelajaran

 

No

Aspek Yang Diamati

Siklus

 

 

1

2

I

Fase 1 (Orientasi siswa pada masalah)

 

1. Guru memberi motivasi kepada siswa

5

5

 

2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran

5

5

 

3. Guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok

masing-masing terdiri dari 4-5 orang

5

5

II

Fase 2 (Mengorganisasikan siswa)

 

4. Guru membagikan teks bacaan kepada siswa

5

5

 

5. Guru membimbing siswa untuk berpendapat

4

4

 

6. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya

tentang materi pelajaran yang belum di pahami

5

5

 

7. Guru menguasai materi pembelajaran

4

4

 

8. Guru menjelaskan materi pembelajaran

5

5

III

Fase 3 (Membimbing penyelidikan individu dan kelompok)

 

9. Guru mengoptimalkan interaksi antara siswa dan guru

dengan kerja kelompok

4

5

 

10. Guru mengajak siswa untuk membaca Modul dan LKPD yang sudah ada di google classroom

4

4

 

11. Guru membimbing siswa dalam kegiatan diskusi

4

5

 

12. Guru menjadi fasilitator dalam pembelajaran

4

4

IV

Fase 4 (Mengembangkan dan menyajikan hasil karya)

 

13. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan

pembelajaran di depan kelas

5

5

V

Fase 5 (Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)

 

14. Guru memberikan tugas kepada siswa

5

5

 

15. Guru melaksanakan evaluasi pembelajaran

5

5

 

JUMLAH

69

71

(Sumber: Hasil Penelitian)

Berdasarkan tabel 6, pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas guru sangat baik, dari 69 menjadi 71 dari skor maksimal 75. Dari skor ini jika dikonversi menjadi 92 di siklus 1 dan 94,6 di siklus 2. Hal ini setelah melihar hasil siklus 1, kemudian di siklus 2 diberi tampilan apersepsi berupa video yang lebih menarik serta dengan melakukan intonasi suara saat pembelajaran, terutama saat diskusi.

Tabel 7

LEMBAR OBSERVASI

Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran

 

No

Aspek Yang Diamati

Siklus

1

2

I

Fase 1 (Orientasi siswa pada masalah)

 

1.  Siswa    tampak    antusias    mengikuti    proses

pembelajaran

4

4

 

2. Siswa membentuk kelompok heterogen yang

terdiri dari 4-5 orang

3

4

II

Fase 2 (Mengorganisasikan siswa)

 

3. Siswa menemukan masalah yang terdapat

pada LKPD yang sudah ada di google classroom

4

4

 

4. Siswa menjawab pertanyaan dengan tepat

ketika berlangsungnya pembelajaran

4

4

 

5. Siswa menyebutkan pendapat dengan jelas

masalah yang terdapat dalam LKPD yang sudah ada di google classroom

5

5

 

6. Siswa meghargai pendapat orang lain

4

4

 

7.  Siswa     memperhatikan     materi     yang     di

sampaikan guru

5

5

III

Fase 3 (Membimbing penyelidikan individu dan kelompok)

 

8. Siswa mengoptimalkan interaksi antara siswa

dan guru dengan kerja kelompok

4

5

 

9. Siswa terlibat langsung dalam kegiatan di

kelas selama proses pembelajaran

4

5

 

10. Siswa    bekerja    sama    dalam    memecahkan

permasalahannya dengan cepat

3

4

IV

Fase 4 (Mengembangkan dan menyajikan hasil karya)

 

11. Siswa membaca teks bacaan dalam kelompok

3

5

 

12. Siswa membacakan hasil temuan kelompok

terhadap kelompok lain

4

5

V

Fase 5 (Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah)

 

13. Siswa    menyimpulkan     pelajaran    yang    di

terimanya

5

5

 

14. Siswa melaksanakan tes tulis

5

5

 

15. Siswa menilai dan memperbaiki pekerjaannya

4

4

 

JUMLAH

61

68

(Sumber: Hasil Penelitian)

Berdasarkan tabel 7, pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas siswa sangat baik, dengan skor total 61 menjadi 68 dari skor maksimal 75. Atau jika dikonversi menjadi 81.3 di siklus 1 dan 90.6 di siklus 2.Hal ini sudah cukup bagus, namun perlu ditingktakan lebih optimal dengan lebih mengaktifkan siswa dalam diskusi.

Tabel 8

Hasil Ketuntasan Belajar

Karakteristik

Siklus 1

Siklus 2

Jumlah siswa seluruhnya

Jumlah siswa yang tuntas

Jumlah siswa yang tidak tuntas

Prosentase ketuntasan klasikal

42

33

9

78,57%

42

38

4

90,48%

Peningkatan hasil ketuntasan dari 78,57% menjadi 90, 48 % berbanding lurus dengan perbaikan di aktivitas guru dan siswa pada putaran 2. Dimana pada putaran 2, guru sudah memperbaiki kekurangannya diantaranya menggunakan intonasi suara yang sesuai, terutama saat diskusi dan menayangkan apersepsi sehingga siswa lebih tertarik dengan kegiatan belajar dengan menggunakan blended learning.

 

 

      Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Dengan Menerapkan blended learning.

Data hasil respon siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan menerapkan blended learning sebagai berikut :

Tabel 9

Lembar Angket Dan Respon Siswa Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Dengan Penerapan Model Blended Learning

  1. Apakah anda setuju dengan kegiatan belajar mengajar dengan merapkan pembelajaran blended learning?
  2. Setuju b. Tidak setuju                       
  3. Apakah materi yang ditulis di pembelajaran blended learning mudah anda pahami?
  4. Setuju b. Tidak setuju                       
  5. Apakah pada waktu guru membahas tugas dan latihan yang menggunakan soal-soal dalam pembelajaran blended learning ini, anda dapat mudah dalam memahaminya?
  6. Setuju b. Tidak setuju                       
  7. Apakah kegiatan belajar mengajar dengan pembelajaran blended learning ini, membantu anda dalam memahami materi tentang mengelola administrasi perpajakan?
  8. Setuju b. Tidak setuju                       
  9. Apakah anda merasa senang dan berkesan dengan kegiatan belajar mengajar dengan merapkan pembelajaran blended learning?
  10. Setuju b. Tidak setuju                       
  11. Apakah anda merasa kesulitan atau kurang bisa memahami materi, jika kegiatan belajar mengajar dilakukan merapkan pembelajaran blended learning?
  12. Setuju b. Tidak setuju                       
  13. Apakah anda setuju, jika pembelajaran blended learning ini diterapkan untuk semua mata diklat akuntansi/ mata pelajaran akuntansi lain?
  14. Setuju b. Tidak setuju                       

 

 

Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran dengan menerapkan blended learning pada siklus 1 yakni siswa yang setuju sebesar 88,09% (37 siswa). Dan pada siklus 2 sebesar 95, 23% (40 siswa setuju). Hal ini menunjukkan siswa senang mempelajari materi dengan penerapan blended learning. Karena terdapat proses tatp muka virtual, sehingga memudahkan siswa menyampaikan pertanyaan terhadap materi yang kurang dimengerti.

 

Simpulan

Ketuntasan belajar pada putaran I adalah 78,57%, dan putaran II adalah 90,48%. Pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas guru dari 92 di siklus 1 menjadi 94.6 di siklus 2. Pengelolaan pembelajaran dengan blended learning dari aktivitas siswa dari 81.3 di siklus 1 menjadi 90.6 di siklus 2. Respon siswa terhadap penerapan pembelajaran dengan blended learning adalah pada putaran I sebesar 88.09% dan putaran II sebesar 95,23%

 

Saran

Agar tercapai ketuntasan belajar yang optimal, yakni ketuntasan belajar klasikal sebesar 100%, maka yang harus dilakukan adalah: Guru harus mengoptimalkan kemampuan 4C dari siswa yakni berfikir kritis, kreatif, komunikasi dan kolaborasi. Agar respon positif dari siswa dapat tercapai secara optimal, yakni respon siswa sebesar 100%, maka yang harus dilakukan adalah: Guru harus membuat kegiatan mengajar yang mengaktifkan siswa dan menyenangkan dengan membuat apersepsi yang menarik dan guru perlu menggunakan intonasi suara yang sesuai.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, Suharsimi. 2004. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Davina, Aulia, dkk. 2019. Jurnal Pendidikan Akuntansi. Volume 07 Nomor 2 Tahun 2019, 236 – 241. Surabaya.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosda.

Pratiwi, Yuni dkk. Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Untan,Pontianak. Email :yuniaswin@gmail.com

Wiriaatmaja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosda.

 

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
TEACHER AND EMPLOYEE COOPERATIVE GOVERNANCE IN SCHOOL

TATA KELOLA KOPERASI GURU DAN KARYAWAN DI SEKOLAH   TEACHER AND EMPLOYEE COOPERATIVE GOVERNANCE IN SCHOOL   Erna Arista SMA Negeri 3 Sidoarjo Email : smantiglearning@gmail.co

12/11/2020 17:15 - Oleh misbah - Dilihat 7 kali